Gedung Baru Kedubes AS Punya Konsep Ramah Lingkungan & Seni

Bertempat di Kedutaan Besar Amerika Serikat di bilangan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Sentra, kunjungan publik itu bertujuan mempersembahkan rumit bangunan baru fase pertama, yang dibangun dengan konsep kolaboratif.

Dibangun di lahan bekas kantor lama Kedubes AS seluas 99.000 meter persegi, yang dibuka tak lama sesudah Perang Dunia II berakhir, rumit bangunan baru itu didesain seluruhnya dengan arsitektur ramah lingkungan.

Davis Brody Bond Architects dari firma arsitektur Dan Planners of New York merancang rumit bangunan itu pantas dengan kompetensi yang disyaratkan oleh Dewan Gedung Ramah Lingkungan AS, dan ditargetkan meraih sertifikasi perak Leadership in Energy and Environmental Design (LEED).

Rancangan uniknya diproyeksikan cakap mengurangi tarif pengaplikasian tenaga sampai 30 persen dibandingi gedung perkantoran umum. Penghematan hal yang demikian, salah satunya, berasal dari pemasangan pelindung surya berbentuk lempengan dan pipa metal pada eksterior bangunan, yang dijalin sedemikian rupa layaknya tekstur serat kain tenun.

Pemakaian desain unik nan inovatif hal yang demikian cakap mereduksi masuknya panas Surya lewat sisi utara dan selatan. Sedangkan demikian itu, sinar natural konsisten diupayakan menyinari beberapa besar zona kaca film gedung, sehingga meminimalisir pemakaian tenaga berlebih untuk penerangan.

Adapun pembangunan fase kedua yang masih berjalan dikala ini, menghadirkan kanopi pejalan kaki yang ditempeli oleh panel daya surya berteknologi tinggi. Kecuali itu, air limbah gedung juga akan diproses dan didaur ulang untuk mengairi zona taman hijau yang luas, bagus di halaman luar ataupun di jeda-jeda tingkat bangunan.

Berdasarkan regu juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, pemakaian fasilitas berkelanjutan itu yakni bukti janji pemerintah Negeri Paman Sam dalam menggunakan motivasi \\\”kota cerdas\\\” (smart city), sekalian keseriusan dalam bekerja sama dengan para negara member ASEAN di bidang berkaitan.

Layak dengan konsep kolaboratif yang diusungnya, rumit bangunan baru itu juga menunjukkan serangkaian koleksi benda seni hasil karya artis AS dan Indonesia, yang dikurasi dengan seksama oleh Office Art in Embassy.

Koleksi benda seni hal yang demikian terdiri dari beraneka macam, seperti lukisan, foto, keramik, pahatan, bahan tekstil, dan olahan serat, yang diinginkan menginspirasi dan menyalurkan tenaga positif bagi khalayak lazim serta zona kerja gedung Kedubes AS.

Salah satu yang paling menyita perhatian yakni replika elang Amerika Serikat karya maestro batik Iwan Tirta, yang direka ulang oleh Mugi Raharjo dari Pekalongan, Jawa Tengah. Kriya wastra hal yang demikian dipajang dalam frame simpel di teras masuk gedung utama.

Beberapa besar kain batik itu mengusung motif parang khas Mataraman, dengan kombinasi warna coklat, abu-abu, dan biru yang ditujukan sebagai perlambang relasi bagus antara Indonesia dan AS.

Kecuali itu, benda seni lain yang ikut mengundang decak terpukau yakni instalasi keramik berjudul Confluence, yang diwujudkan oleh artis Courtney Mattison asal San Fransisco, California. Bertempat di zona lobby dalam, karya hal yang demikian bertujuan mengingatkan kesadaran publik akan pentingnya melindungi kelestarian Bumi, yang diterangkan dalam gradasi warna pada replika terumbu karang.

 

 

 

 


Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *