Indonesia Lebih Dulu untuk Urusan Kolaborasi Teknologi dan Seni dari Era Internet

saint monica kelapa gading

Commander H. Bregg ialah astronot yang dikirim ke ruang angkasa untuk mengerjakan misi penjelajahan antariksa. Misinya diawali dikala istrinya sedang hamil tua dan si kecil perempuan yang dikasih nama Nais lahir, ia baru saja mengawali perjalanannya meninggalkan solar system.

Pada masa 20 tahun sesudah pesawatnya meninggalkan bumi, Bregg mendapatkan surat dari si kecilnya yang tak pernah ditemui. Perjalanan Bregg ialah perjalanan sepi dan sendiri sampai pada tahun ke-56 barulah ia kembali ke bumi.

Kembalinya ia ke bumi terbukti cuma membawa ia karam dalam lautan kesendirian yang dalam sebab ia mesti mendapatkan kenyataan: istri dan si kecilnya juga segala member keluarganya yang ia rindukan sudah meninggal.

Baca Jugahttp://wartakota.tribunnews.com/2018/11/09/membahagiakan-para-siswa-dalam-acara-childrens-day

Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengadakan konferensi internasional ICAPAS hal yang demikian 17-18 Oktober 2018 lalu mengangkat tema “Art of The Information Age” (Seni Zaman Isu).

Pertunjukan hal yang demikian melibatkan pemain yang terpisah jarak benar-benar jauh merupakan New York (AS) dan Seoul (Korea). Mereka disatukan teknologi dan mewujudkan sebuah syntetic enviroment (lingkungan buatan).

Dalam pertunjukan itu ada 3 lingkungan terlibat; 2 lingkungan kongkret merupakan di New York dan Seoul dan 1 lingkungan buatan yang ialah progres sintesa dari ke-2 lingkungan hal yang demikian.

Masing-masing lingkungan dihadirkan terhadap penonton yang berada di New York dan Seoul secara live. The Return yang dipentaskan pada bulan Desember 2014 ialah satu dari sekian banyak karya eksplorasi yang dilakukan Culturehub.

Iwan Setiawan Dani, mahasiswa pascasarjana ISI terhadap Arah.com (12/11/2018) lalu membeberkan Culturehub ialah kelompok sosial global di bidang seni dan teknologi yang terletak di New York, Los Angeles, Seoul, Roma dan Bandung. Culturehub didirikan oleh LaMaMa Experimental Theater Club (New York, AS) dan Seoul Institute of Art (Korea).

Culturehub mensupport para artis dari beragam negara yang tergabung di dalamnya untuk bereksperimen dengan teknologi. Berjenis-jenis wujud telepresence seperti video conference, virtual reality, teleholographics, maupun wujud teknologi lainnya bisa dieksplorasi mewujudkan karya kolaborasi seni antar negara.

Iwan membeberkan penerapan teknologi semacam itu pernah juga dikerjakan penari senior yang juga dosen ISI Yogyakarta, Martinus Miroto tahun 2015.

Dalam karyanya “Simulakra”, Miroto menghadirkan 1 orang penari yang berada di Padang Panjang dan 1 orang penari di Bali secara beriringan hadir dalam pentas berada di Jakarta.

Penari Padang Panjang dan Bali dihadirkan dalam wujud teleholografis yang menarikan bersama dengan penari kongkret yang ada di pentas Jakarta.

“Eksplorasi penerapan teknologi telepresence dalam seni pertunjukan terbukti sudah diawali lebih permulaan lagi,” terang Iwan.

Pada pernikahan Putri Belanda Juliana bulan Januari 1937, Gusti Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemo Wardhani, putri KGPAA Mangkunegara VII (Raja Kraton Solo) yang dikala itu berumur 15 tahun memperlihatkan tarian Sari Tunggal di hadapan Ratu Belanda dan para tetamu undangannya di Den Haag, Belanda.

Uniknya musik gamelan yang mengiringi tari dimainkan di kraton Solo dan ditransmisikan stasiun radio Solosche Radio Vereeniging (SRV) ke Belanda. Indonesia terbukti sudah memiliki jejak sejarah yang cukup panjang dalam penerapan teknologi untuk seni.

” Teknologi sudah membuka peluang untuk berkreasi dan berkolaborasi lebih luas lagi bagi para artis. Sekarang, kecanggihan teknologi menjadi tantangan baru bagi artis untuk berkreasi,” tutup Iwan.

 

Baca Juga: saint monica kelapa gading


Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *